Program KASIH: Menggugah Kesadaran Ayah untuk Dukungan Pemberian ASI Eksklusif di Kabupaten Tangerang

Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 30,8% berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Salah satu upaya untuk mengurangi angka stunting adalah dengan memastikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Sayangnya, meskipun ASI eksklusif terbukti dapat menurunkan risiko stunting sebesar 13%, kurangnya pengetahuan dan dukungan dari ayah sering kali menjadi kendala dalam proses pemberian ASI eksklusif. Untuk mengatasi masalah ini, Puskesmas Kosambi di Kabupaten Tangerang memperkenalkan program inovatif bernama KASIH (Kelas Ayah ASI), yang bertujuan untuk meningkatkan peran ayah dalam mendukung pemberian ASI eksklusif.

Program KASIH dirancang dengan latar belakang pentingnya peran ayah dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Human Lactation pada tahun 2020, dukungan dari ayah dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif sebesar 25%. Namun, dalam banyak program kesehatan, keterlibatan ayah masih sering terabaikan. Oleh karena itu, KASIH hadir untuk mengubah paradigma ini dengan fokus pada edukasi dan keterlibatan aktif ayah dalam proses menyusui.

Kelas KASIH menggunakan pendekatan interaktif dan praktis untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan ayah dalam mendukung pemberian ASI eksklusif. Melalui metode pembelajaran seperti simulasi dan role-playing, para ayah diajak untuk memahami pentingnya ASI eksklusif, serta bagaimana mereka dapat berperan aktif dalam mendukung ibu, baik secara fisik maupun emosional. Selain itu, program ini juga melibatkan komunitas lokal dan kelompok dukungan ayah, menciptakan lingkungan yang saling mendukung dan memperkuat peran ayah dalam keluarga.

Regulasi pemerintah mendukung pentingnya peran keluarga dalam pencegahan stunting, seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Dengan latar belakang ini, KASIH tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pemberian ASI eksklusif, tetapi juga untuk menurunkan prevalensi stunting di wilayah Puskesmas Kosambi. Diharapkan melalui program ini, para ayah dapat memahami dan mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh, sehingga tercipta lingkungan keluarga yang mendukung pemberian ASI eksklusif.

Manfaat dari program KASIH tidak hanya dirasakan oleh ayah, tetapi juga oleh ibu dan bayi. Ayah yang mengikuti kelas ini mendapatkan pengetahuan mendalam tentang manfaat ASI eksklusif dan keterampilan praktis untuk mendukung ibu dalam proses menyusui. Dengan adanya dukungan dari ayah, ibu dapat merasa lebih tenang dan lebih termotivasi untuk memberikan ASI eksklusif, yang pada akhirnya berdampak positif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi. ASI eksklusif juga memberikan perlindungan imunologis penting bagi bayi, yang membantu melawan infeksi dan penyakit, serta mengurangi risiko stunting.

Hasil dari implementasi program KASIH menunjukkan dampak yang signifikan. Peserta kelas menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mendukung pemberian ASI eksklusif. Peningkatan angka pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi di wilayah Puskesmas Kosambi juga terlihat, yang secara langsung berkontribusi pada penurunan prevalensi stunting. Selain itu, terbentuknya kelompok dukungan ayah yang aktif menjadi salah satu hasil sosial yang positif dari program ini, menciptakan jaringan komunikasi dan dukungan antar ayah yang lebih kuat.

Dengan feedback positif dari peserta dan efektivitas program yang terbukti, KASIH tidak hanya menjadi program unggulan di Puskesmas Kosambi, tetapi juga model yang dapat diadopsi oleh puskesmas lain atau lembaga kesehatan di daerah lain. Dengan terus mengembangkan materi edukasi dan metode pelatihan, KASIH diharapkan dapat memberikan kontribusi jangka panjang dalam mengurangi masalah stunting dan meningkatkan kualitas hidup keluarga di Indonesia. Program ini juga membuka jalan bagi perubahan pola pikir di masyarakat mengenai pentingnya peran ayah dalam kesehatan bayi dan pemberian ASI eksklusif, menjadikan KASIH sebagai inovasi yang berdampak luas dan berkelanjutan.